Senin, 26 Maret 2012

Proses-proses Kekalutan Mental


Teori Dasar
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental.Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar.

Proses-proses Kekalutan Mental

Proses-proses kekalutan mental yang dialami oleh sesorang dapat mendorongnya ke arah berikut ini :
  1. Positif, bila trauma (luka jiwa) yang dialami seseorang akan dijawab secara baik sebagai usaha agar tetap survive dalam hidup. Misalnya, melakukan shalat Tahajud bagi umat Islam waktu malam hari untuk memperoleh ketenangan dan mencari jalan keluar untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi, atau melakuka kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam kehidupan (Dalam pepatah dikatakan; Hendaknya jatuh tupai janganlah sampai jatuh tapai!).
  2. Negatif, bila trauma yang dialami tidak dapat dihilangkan, sehingga yang bersangkutan mengalami frustrasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan.

Bentuk frustrasi yang dialami orang dewasa antara lain sebagai berikut
  1. Agresi, serangan berupa kemarahan yang meluap akibat emosi yang tidak terkendalikan. Secara fisik berakibat mudah terjadinya hipertensi (tekanan darah tinggi), atau melakukan tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya.
  2. Regresi, kembali pada pola reaksi yang primitif atau kekanak-kanakan (infantil), misalnya dengan menjerit-jerit, menangis sampai meraung-raung dan merusak barang-barang.
  3. Fiksasi, peletakan atau pembatasan pada satu pola yang sama (tetap), misalnya dengan membisu, memukul-mukul dada sendiri dan membentur-benturkan kepala pada benda keras.
  4. Proyeksi, usaha mendapatkan, melemparkan atau memproyeksikan sikap-sikap sendiri yang negatif pada orang lain. Kata pepatah : awak yang tidak pandai menari, dikatakan lantai yang terjungkat.
  5. Indentifikasi, menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imajinasi, misalnya dalam kecantikan, yang bersangkutan menyamakan dirinya dengan bintang film, atau dalam soal harta kekayaan dengan pengusaha kaya yang sukses.
  6. Narsisme, self love yang berlebihan sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari pada orang lain.
  7. Autisme, gejala menutup diri secara total dari dunia riil, tidak ingin berkomunikasi dengan orang luar, dan merasa tidak puas dengan fantasinya sendiri yang dapat menjurus pada sifat yang sinting.
Oleh karena itu, penderita kekalutan mental lebih banyak terdapat dalam lingkungan :
  • Kota-kota besar banyak memberikan tantangan-tantangan hidup yang berat, sehingga orang merasa dikejar-kejar dalam memenuhi keperluan hidupnya. Akibatnya, sebagian orang tidak mau tahu penderitaan orang lain, timbullah egoisme yang merupakan salah satu ciri masyarakat kota.
  • Anak-anak usia muda tidak berhasil dalam mencapai apa yang dikehendaki atau diidam-idamkan, karena tidak berimbanganya kemampuan dengan tujuannya, dan karena belum berpengalaman. Orang-orang usia tua pun sering mengalami penderitaan dalam kenyataan hidupnya, akibat norma lama yang dipegangnya secara teguh sudah tidak sesuai dengan norma baru yang tengah berlaku.
  • Wanita umumnya lebih mudah merasakan suatu masalah dan memendamnya di dalam hati (introver). Namun, sulit mengeluarkan perasaannya tersebut, sementara mereka memiliki kondisi tubuh yang lebih lemah. Hal ini mengakibatkan mereka banyak memendam masalah dalam hati, sehingga tidaklah mengherankan kalau kaum wanita banyak yang menjadi penderita psikosomatik (penyakit akibat gangguan kejiwaan) dari pada kaum pria.
  • Orang-orang yang tidak beragama tidak memiliki keyakinan bahwa diatas dirinya ada kekuasaan yang lebih tinggi sehingga sikap pasrah pada umumnya tidak dikenalnya. Dalam keadaan yang sulit, orang seperti ini mudah sekali megalami penderitaan, diperkirakan bahwa jumlah penderita golongan ini mencapai 40 %.
  • Orang yang terlalu mengejar materi, seperti pedagang dan pengusaha, selalu memiliki sifat ‘gigiah’ dalam memperoleh tujuan kegiatanya, yaitu mencari untung sebanyak mungkin. Mereka adalah kaum materialis dan biasanya mengabaikan masalah spiritual yang justeru membuat seseorang pasrah pada saat-saat tertentu.
Berikut contoh artikel yang berkaitan :
Pria dan wanita memang berbeda, termasuk dalam menangani dan mengekspresikan emosinya. Itu sebabnya jika mengalami gangguan mental, tipenya juga berbeda.

Pria pada umumnya lebih sering didiagnosis menderita gangguan perilaku penyalahgunaan atau antisosial, Sedangkan wanita lebih sering didiagnosis menderita kecemasan atau depresi.
Kesimpulan tersebut dibuat berdasarkan analisis data hasil penelitian tahun 2001-2002 terhadap 43.000 orang yang ikut ambil bagian dalam National Institute Health Survei Amerika.
Perbedaan gangguan mental itu terbentuk karena cara pria dan wanita dalam menginternalisasi dan mengekspresikan emosinya juga berbeda.
Wanita yang menderita gangguan kecemasan cenderung menyimpan emosinya sendiri sehingga mereka merasa kesepian, depresi, dan menarik diri. Sementara pria lebih suka menunjukkan emosinya sehingga sikap mereka cenderung agresif, impulsif, atau memaksa.
Berdasarkan temuan di atas, peneliti menyimpulkan perlu dibedakan terapi dan penanganan gangguan mental berdasarkan jenis kelamin.
"Pada wanita, pengobatan mungkin fokus pada penanggulangan dan keterampilan kognitif untuk membantu mereka terlalu banyak merenung yang bisa berkembang ke arah depresi klinis atau kecemasan," kata Nicholas Eaton, pemimpin penelitian dari University of Minnesota.
Sementara pada pria, upaya pengendalian perilaku termasuk membuat mereka mengurangi perilaku agresif dan destruktif.

Pendapat Pribadi
Ya, jika kita mendengar tentang kekalutan mental. Yang kita pikirkan pasti kekalutan mental itu adalah sutu sifat yang diman seseorang sedang mengalami gangguan pada jiwa atau dirinya sedang ditimpa masalah yanf besar. Sehingga membuat diri seseorang itu menjadi labil dan lebih mudah emosi. Dalam keadaan tersebut, seseorang yang sedang mengalami kekalutan mental harus didampingi oleh orang terdekat, karena pengaruh orang tersebut sangat besar dan bisa membantu kekalutan mental yang dialami oleh saudaranya tersebut.

Dalam artikel diatas, telah disebutkan bahwa perbedaan gangguan jiwa yang terjadi antara pria dan wanita. Pria, dalam mengalami gangguan jiwa biasanya lebih condong ke salah tingkah dan anti-sosial. Sedangkan, gangguan jiwa yang terjadi pada wanita biasanya lebih condong menderita kecemasan atau depresi.


Dan, pada artikel diatas disebutkan pula bahwa jika wanita mengalami gangguan jiwa mereka lebih sering menyimpannya sendiri sehingga mereka lebih sering mengalami depresi dan sering mengalami kesepian. Berbeda dengan pria, mereka biasanya malah meluapkan emosinya sehingga sikap pria lebih agresif dan cenderung memaksa.


Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus saling membantu jika saudara dan teman kita mengalami kekalutan mental. Karena, mungkin kita orang yang bisa membantu meredam kekalutan mental yang sedang dialami oleh saudara kita atau teman kita. Karena, setiap orang pasti akan mengalami kekalutan mental jika ditimpa masalah yang sangat besar.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan anda berkomentar, tapi tetap jaga nilai kesopanan ya dengan tidak melakukan komentar spam